Tradisi Apitan Ngroto

Senin 03 Oktober 2011, Tradisi Apitan Ngroto – sedekah bumi? – diselenggarakan dengan penuh kesederhanaan di kediaman Kepala Desa Ngroto. Karena satu dan lain hal, pelaksanaan tradisi apitan pada tahun ini tidak diselenggarakan seperti pada tahun terdahulu, dimana biasanya diisi dengan hiburan rakyat seperti wayang kulit, ketoprak atau yang lain.

Dalam pelaksanaan tahun ini, tradisi apitan diisi dengan do’a bersama yang dipimpin oleh K.H Munir Abdulloh bersama tokoh dan sesepuh desa serta diikuti oleh warga Ngroto.

Di Ngroto, Tradisi sedekah bumi tingkat desa biasanya diselenggarakan setiap satu tahun sekali di bulan Dzul Qo’dah (Hijriyah) atau bulan Selo/Apit (Jawa).

Menurut para tokoh dan sesepuh di Ngroto, tradisi ini dinamakan “Apitan”, karena diambil dari nama bulan dalam kalender jawa saat diselenggarakannya acara ini. Apit / Selo sendiri adalah penyebutan oleh masyarakat lokal untuk bulan yang berada diantara dua hari raya, Hari Raya I’dul Fitri (Syawal) dan I’dul Adha (Besar).

Beberapa tradisi lokal yang menarik disetiap Apitan diantaranya “Sirat-siratan”, yaitu tradisi mengguyur seluruh badan para perangkat desa dengan dawet (cendol). Sebelum diguyur dengan dawet, Kepala Desa dan perangkat desa yang lain, berputar beberapa kali mengelilingi rumah Kepala Desa sambil berlari kecil, seakan menghindar dari lecutan cambuk (pecut) yang dibawa oleh perangkat desa lain yang ikut mengejar dari arah belakang sambil sesekali menyiramkan/memercikkan air dawet yang terkadang dicampur dengan rujak dari bermacam buah kearah Kepala Desa dan dinding rumah. selesai mengitari rumah, kendi yang berisi air dawet dan pecahan uang logam dipecah diatas tebu dan tanaman lain yang sebelumnya ditanam didepan rumah kepala desa.

Selain acara “Sirat-siratan”, dalam tradisi Apitan juga diisi dengan do’a bersama yang dipimpin oleh Tokoh agama dan sesepuh setempat yang diikuti oleh warga desa.
Selesai acara do’a, makan bersama menjadi saat kebersamaan bagi seluruh warga dari berbagi lapisan yang mengikuti rangkaian acara. Berbagai makanan (ambengan) yang dibawa oleh perangkat desa dalam wadah “Trempelang” ( baki/nampan extra besar yang terbuat dari kayu berdiameter 1 – 1,5 meter) dan warga yang lain dalam bermacam wadah menjadi menu istimewa dalam tradisi apitan.

Dalam acara makan bersama, ada satu keunikan lain yang biasa dilakukan oleh warga Ngroto.
“Sego Galeng”, nasi dan bermacam lauk pauk tradisional ditempatkan diatas daun pisang yang diletakkan memanjang 3-6 meter seperti galengan (pematang sawah?/gundukan2 tanah), kemudian dimakan secara bersama-sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s