Tradisi Saparan Ngroto

Seminggu terakhir di bulan ini, ada yang sedikit berbeda dengan hari-hari biasanya. Ketika kita memasuki rumah warga Ngroto, akan ada sedikit kejutan di meja makan mereka. Piring, mankok, panci serta tempat makan yang lain akan dipenuhi dengan “Jenang Cethil”. Makanan tradisional yang bahan dasar pembuatannya terbuat tepung & gula merah ini menjadi salah satu menu wajib tambahan. Selain untuk dimakan sendiri beserta seluruh keluarga, Jenang Cethil yang dibuat juga akan dibagi-bagikan ke sanak saudara & tetangga sekitar. Ada sebagian yang berpendapat, Bulan Sapar terasa kurang bermakna kalau tidak ada “Selametan Jenang Cethil”.
Selain membuat & membagikan Jenang Cethil, ada tradisi unik lain yang biasa dilakukan oleh warga Ngroto di bulan Sapar. Pada hari rabu yang jatuh diakhir bulan Sapar, biasanya warga akan melakukan ritual mandi keramas yang didahului dengan niat mandi taubat & mandi tolak balak. Pada jaman dulu, ritual mandi keramas biasanya dilakukan secara bersama-sama di Sendang, Blumbang, Kedung Kali(Tuntang), Sumur, bahkan di Kolah(bak wudhu besar) Masjid Ngroto. Tua, muda, anak-anak berkumpul menjadi satu di tempat yang mereka anggap lebih nyaman & mberkahi. Tentu saja antara laki – laki dan perempuan dibedakan tempat serta waktunya (bergilir).
Setelah mandi keramas selesai, ritual berikutnya adalah memotong kuku & rambut. Dalam memotong kuku ada aturan main tersendiri yaitu dengan cara memotong kuku jempol ketemu jempol yang lain. Sedangkan untuk rambut yang dipotong adalah pucuk dari masing – masing bagian rambut kepala, termasuk bagian “athi – athi” (depan telinga) disebelah kanan & kiri.
Rangkaian ritual diatas yang oleh masyarakat dinamakan ritual “Rebo Wekasan” diakhiri dengan melakukan sholat sunnah 4 rokaat plus amalan lain yang dilakukan secara bersama-sama di “Langgar” terdekat.
Beberapa daerah Indonesia yang lain mungkin mempunyai tradisi yang berbeda – beda dalam menyambut bulan Sapar. Sebagai contoh, misalnya di Desa Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta ada Tradisi Saparan Bekakak, di Kompleks Wisata Umbul Pengging, Banyudono, Boyolali, dan di Kecamatan Jatinom, Klaten Jawa Tengah, ada Upacara Tradisi Saparan Sebar Kue Apem, sedangkan di Cirebon ada Tradisi Saparan: Ngapem, Ngirab & Rebo Wekasan. Masing – masing daerah mempunyai keunikan & kekhasan sendiri.
Yang bisa diambil pelajaran dari tradisi Saparan diberbagai daerah, khusunya Ngroto, adalah bagaimana sikap guyubrukun, kebersamaan yang dilandasi dengan kepekaan sosial, kehati-hatian bertindak, dan ketaatan serta kepasrahan kepada Alloh Yang Maha Kuasa, ternyata masih melekat erat di sebagian masyarakat kita dan sedikit banyak bisa menahan gempuran era modern yang disusupi dengan maraknya pemujaan kepada diri sendiri, mementingkan individu, dan semakin melupakan Tuhan Sang Pencipta.

One comment on “Tradisi Saparan Ngroto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s